Senin, 20 Desember 2010

Senja Berlalu


Senja Berlalu

Oleh : Fahrie Ahmad


Pak… aku masih ingat ketika Bapak pergi pada saat aku belum berangkat ke sekolah. Aku masih benar-benar mengingat ketika aku sering terbangun dari tidurku yang baru dimuali dan melihat Ibu membukakan pintu yang sudah terkunci untuk Bapak.

Yang lebih membekas dalam ingatanku hingga saat ini, adalah saat itu aku tak mengerti kenapa Ibu sering mendandani dirinya seperti akan pergi menghadiri undangan hajatan, padahal aku tahu dengan pasti, Ibu tak seperti itu, kemudian sering kulihat Ibu berwajah muram dan matanya basah seakan telah mengucurkan air mata yang sangat lama, mungkin Ibu memang sering menangis di belakangku, di penghujung hari saat Bapak belum pulang. Aku tak berani menanyakan kenapa. Aku pun tak kuasa mengatakan padanya bahwa aku sangat menyayanginya. Ibu sangat pendiam pada saat-saat itu.

Ah, mengingat semua itu hanya membuat luka lama ini terkoyak kembali. Aku biarkan kisah kelam yang tertorehkan dalam sejarah hidupku, menjadi saksi yang tak pernah mengerti akan pengkhianatan Bapak atas kesetiaan Ibu.

Kini ibu telah tiada sejak lama, sejak mengetahui bahwa bapak sudah beristeri lagi selain ibu. Itu kejam Pak! Bagiku, bagi ibu dan bagi adik-adikku. Dan membuat hati ini sangat enggan untuk mengeluarkan kata maaf atau berkeinginan membahas masalah itu lagi, hanya sekedar untuk mencari penjelasan yang sesungguhnya dari Bapak.

Tidak.

Aku takut Bapak menemukan penjelasan untuk menghapus kesalahan Bapak itu. Baik aku atau adik-adikku yang kini sudah beranjak dewasa masih saja tak mengerti sikap ini. Bahkan kini aku baru saja menjadi seorang ayah -dari cucumu, Pak!-,

Oh Tuhan, maafkan hambaMu ini.

Andai saja ada alasan yang membuat anak ini untuk tidak menjadi cucu dari ayahku, maka akan kugunakan sebaik mungkin alasan itu. Aku tak mau anakku tertitis dari darah orang yang telah menyakiti ibuku dulu, meski ia adalah Bapak. Ayahku. Sayang. Alasan itu tak kan pernah ada.

Apa Bapak tau? Itu harapanku saat jabang itu masih nyenyak dalam dekapan rahim ibunya, isteriku. Meski tak pernah terlantun dalam alunan doaku, namun harapan itu begitu nyata dalam lintasan batinku kala itu. Kenapa seperti itu?! Alasannya Cuma satu; aku masih membenci Bapak!

Aku belum bisa melupakan betapa dunia ini seakan menjadi gelap seketika. Dan aku merasa seperti berada di hutan belantara atau gurun sahara atau apa sajalah, tempat yang sangat asing bagiku, ditinggalkan oleh orang-orang yang menjadikanku merasa aman. Entahlah! Siapa orang itu. Ibu, mungkin. Ya, Ibu.

Saat itu aku sudah tak sanggup lagi menyeka air mataku yang sudah hampir habis, tak mampu mengelus dadaku yang ringkih karena kurang makan –Bapak sudah lama tak memberi uang untuk biaya hidup kami, hingga pada hari itu. Hari di mana aku hanya mampu menangis sambil memeluk adik-adiku, karena ibu sudah tinggal jasad saja. Bahkan Bapak tak menyaksikan hembusan napas terakhir Ibu.

Saat itu aku malah bersyukur Bapak tidak ada, saat orang-orang yang berdatangan memutuskan bahwa Ibu memang sudah tidak ada. Mungkin ruhnya sudah bebas meninggalkan jasadnya yang penuh dera siksaan perasaan dari suami yang kawin lagi. Padahal, dalam tubuh yang kaku dengan keadaan terduduk itu ada seorang bayi, adikku. Hingga aku pun tak sanggup mengangkat manusia mungil yang mulai kebingungan itu dari dekapan ibundanya yang sudah tak bernyawa. Tubuhku lemas seketika, seperti tak bertulang. Tak terbayang semua hari yang masih tersisa sangat jauh untuk kujalani. Relakah aku dengan semua ini? Aku sendiri tak tahu. Biarlah Tuhan yang menilai.

Jika Bapak ada di situ pada waktu itu, aku takut Bapak malah bersorak ria mengacungkan bendera kemenangan. Itu kekhawatiran yang tak terelakkan, Pak! Sangat pelak! Meski pada kenyatannya Bapak langsung memeluk aku dan adik-adikku ketika datang.

Dari mana, Pak?! Dari rumah isteri muda?! Kurang ajar kau, Pak! Kenapa masih berani datang?! Hah?!

Sayang sekali kata-kata itu tersekat oleh rasa sedih yang tak tertanggungkan lagi. Dan, rasa dendam.

Rasa benci dan dendam yang dulu terus menyayat keping hatiku itu sudah menjadi ‘kebiasaan’ dan sikap wajarku terhadapmu, Pak!

Hingga kini, aku sudah berkeluarga. Setelah kematian Ibu, Bapak memutuskan untuk menceraikan isteri muda sundal itu. Entah siapa namanya.

Dan mungkin, Bapak pikir dengan demikian Bapak bisa menjelma menjadi orang yang termaafkan kesalahannya begitu saja? Sama sekali tidak! Betapa tak punya hatinya dirimu, Pak! Didiamkan oleh anak-anakmu selama bertahun-tahunpun mungkin tak kan pernah cukup tuk menebus kesalahanmu.[]

*****

Astaghfirullah...

Tapi itu dulu, Pak. Tepatnya sejak sebulan yang lalu. Sejak kelahiran anak pertamaku. Kelahiran cucumu, Pak. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya ingin kau memelukku dan mengatakan ‘Bapak sayang kalian semua, Bapak rindu kalian semua’.

Dalam senja rentamu, kini baru aku tahu rasanya menjadi seorang ayah.

Pak, semua ‘kebiasaan’ yang terlalu angkuh untuk di goyahkan ini, kini mencair seketika dan begitu saja. Aku tak memperdulikan rasa malu dan engganku lagi untuk mengetuk pintu hatimu, Pak.

Jauh-jauh aku pulang kampung, hanya untuk memberitahukan kelahiran cucumu ini, Pak.

Kini, senja hari ini yang menyaksikan, aku bersama isteri dan anakku –cucumu, sedang berada di depan rumahmu, Pak. Rumah kita dulu.

Allah....

Betapa setiap sudut rumah yang sudah lapuk ini mengingatkanku pada masa kecilku dulu.

Masih ingatkah kau pada anakmu ini, Pak? Setelah bertahun-tahun kau kutinggalkan.

Biarlah tangan ini yang menentukan jawabannya. Dengan basmalah dan gemetaran kuketuk pintu rumah tua ini.

“Assalamualikum....”